Jumat, 25 April 2025

Game Menangkap Buah Apel

Game ini saya buat menggunakan aplikasi Scratch, dengan tema game permainan untuk melatih keterampilan anak.

Jumat, 18 April 2025

Cinta Seorang Suami Kepada Keempat Istrinya


Di taman hati yang rindang dan luas,

Empat bunga mekar, semerbak nan tulus.

Bukan terbagi, cintaku justru bertunas,

Setiap kelopak menyimpan kisah khusus.


Yang pertama, hadir bagai mentari pagi,

Hangat sinarnya membangkitkan hari.

Dengan sabar menemani dan mengerti,

Pelita jiwa di setiap sepi.


Yang kedua, laksana rembulan yang teduh,

Cahayanya lembut, menenangkan kalbu.

Senyumnya damai, menghilangkan keluh,

Tempat berlabuh segala suka dan pilu.


Yang ketiga, bagai bintang yang gemerlap,

Cerdas dan riang, semangatnya tetap.

Menyemai ide, mimpi tak pernah lenyap,

Hidup bersamanya bagai tak pernah gelap.


Dan yang keempat, hadir bagai embun pagi,

Menyegarkan jiwa, sejuk di hati.

Cintanya murni, tanpa terbagi,

Melengkapi indah lukisan ilahi.


Bukan persaingan yang kurasa di sana,

Namun harmoni dalam cinta yang sama.

Setiap hadirnya, bahagia kurasa,

Empat cinta, satu jiwa di dalamnya.


Mungkin tak biasa, namun inilah adanya,

Cintaku bersemi dalam empat wanita.

Doaku tulus, semoga selamanya,

Kita bersama dalam ridha Yang Maha Esa.

Foto Bersama Kelas 9B

 



Foto Bersama Kelas 9F

 



Rabu, 16 April 2025

Foto Kelas 9C

 




Cerpen Asal Usul Salatiga

Dahulu kala, jauh sebelum gemerlap lampu dan hiruk pikuk kendaraan memenuhi lembah di antara Gunung Merbabu dan Telomoyo, hiduplah seorang pertapa sakti bernama Ki Ageng Pandanaran. Beliau dikenal bijaksana, memiliki ilmu luhur, dan disegani oleh masyarakat sekitar yang masih hidup dalam kesederhanaan.

Suatu hari, Ki Ageng Pandanaran menerima perintah gaib melalui медитация. Beliau diminta untuk membuka hutan belantara di lereng timur Gunung Merbabu dan mendirikan sebuah permukiman baru. Perintah itu disertai petunjuk yang jelas: tempat itu akan ditandai dengan tiga pohon "sala" yang tumbuh berdekatan.

Dengan keyakinan dan tekad yang kuat, Ki Ageng Pandanaran bersama beberapa pengikut setianya memulai perjalanan. Mereka menyusuri jalan setapak, menembus rimbunnya pepohonan, dan menghadapi berbagai tantangan alam. Setelah berhari-hari berjalan, tibalah mereka di sebuah lembah yang subur dengan aliran sungai yang jernih.

Di tengah lembah itu, keajaiban terjadi. Mereka menemukan tiga pohon sala yang tumbuh berdampingan, persis seperti yang diwahyukan. Ki Ageng Pandanaran dan para pengikutnya merasa takjub dan yakin bahwa tempat inilah yang dituju.

Dengan semangat gotong royong, mereka mulai membuka hutan, membangun gubuk-gubuk sederhana, dan mengolah tanah. Ki Ageng Pandanaran menjadi pemimpin dan penasihat bagi permukiman baru itu. Beliau mengajarkan bercocok tanam, berternak, dan nilai-nilai kehidupan yang luhur.

Seiring berjalannya waktu, permukiman itu semakin ramai. Orang-orang dari berbagai penjuru datang dan menetap di sana, tertarik dengan kesuburan tanah dan kepemimpinan Ki Ageng Pandanaran yang adil dan bijaksana. Mereka hidup rukun dan damai, membangun kehidupan yang lebih baik.

Nama permukiman itu pun diambil dari penanda awal keberadaannya: tiga pohon sala. Masyarakat menyebutnya "Salatiga". Nama itu menjadi pengingat akan perjalanan spiritual Ki Ageng Pandanaran dan petunjuk gaib yang membawanya ke tempat yang penuh berkah itu.

Kisah tentang tiga pohon sala dan Ki Ageng Pandanaran terus diceritakan dari generasi ke generasi. Masyarakat Salatiga percaya bahwa nama kota mereka bukan hanya sekadar nama, tetapi juga mengandung sejarah dan harapan akan kemakmuran dan kedamaian. Tiga pohon sala kemudian diabadikan sebagai simbol kota, mengingatkan setiap warganya akan asal usul dan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh pendiri mereka.

Hingga kini, meskipun Salatiga telah berkembang menjadi kota modern, jejak-jejak masa lalu dan cerita tentang Ki Ageng Pandanaran tetap hidup dalam ingatan kolektif masyarakatnya. Nama "Salatiga" terus menjadi saksi bisu perjalanan sebuah permukiman sederhana yang tumbuh menjadi kota yang dinamis dan berbudaya.

Selasa, 15 April 2025

Pendekar Sakti Kaliwungu


Angin sore membelai lembut dedaunan di hutan Kaliwungu. Cahaya senja menembus celah-celah pepohonan, menciptakan lukisan keemasan di atas tanah. Di tengah kesunyian itu, tinggallah seorang pria yang namanya telah menjadi legenda di pelosok Jawa Tengah: Ki Ageng Suro, atau lebih dikenal dengan julukan Pendekar Sakti Kaliwungu.

Julukan itu bukanlah isapan jempol belaka. Ki Ageng Suro memiliki ilmu kanuragan tingkat tinggi, hasil dari bertahun-tahun laku tirakat dan berguru pada para sesepuh di gunung-gunung terpencil. Kekuatannya bagaikan banteng yang marah, kelincahannya melebihi kijang, dan setiap gerakannya memancarkan wibawa yang tak terbantahkan. Namun, di balik kesaktiannya, tersimpan hati yang teduh dan penuh kasih.

Kaliwungu, sebuah desa kecil yang damai, menjadi tempatnya mengasingkan diri dari hiruk pikuk dunia. Ia memilih hidup sederhana di sebuah gubuk di tepi hutan, berbaur dengan para petani dan nelayan. Baginya, kesaktian bukanlah untuk dipamerkan, melainkan untuk melindungi mereka yang lemah dan menegakkan keadilan.

Suatu hari, ketenangan Kaliwungu terusik oleh kedatangan sekelompok perampok yang dipimpin oleh seorang bertopeng besi, dikenal kejam dan tak kenal ampun. Mereka datang dengan tujuan merampas hasil panen dan menjarah harta benda penduduk. Ketakutan menyelimuti desa, dan harapan seolah sirna.

Mendengar kegaduhan dan melihat keputusasaan di mata para warga, hati Ki Ageng Suro tergerak. Ia tidak bisa tinggal diam melihat kedzaliman merajalela di tanah yang telah memberinya kedamaian. Dengan langkah tenang namun penuh keyakinan, ia keluar dari gubuknya.

Para perampok yang sedang mengobrak-abrik rumah penduduk terkejut melihat kehadiran seorang pria tua berpakaian sederhana namun auranya begitu kuat. Pemimpin bertopeng besi tertawa sinis. "Siapa kau, kakek renta? Jangan coba-coba menghalangi urusanku!"

Ki Ageng Suro hanya menggelengkan kepala dengan tatapan mata yang tajam namun tanpa amarah. "Kalian telah mengusik kedamaian desa ini. Pergilah sebelum amarahku bangkit."

Tantangan itu disambut dengan geraman kasar para perampok. Mereka menyerbu Ki Ageng Suro dengan pedang terhunus. Namun, gerakan Pendekar Sakti Kaliwungu bagaikan kilat. Dengan tangan kosong, ia menangkis serangan demi serangan, melumpuhkan lawan-lawannya tanpa ada niat membunuh. Setiap sentuhannya membuat para perampok terjerembab kesakitan, senjata mereka terlepas tak berdaya.

Pemimpin bertopeng besi menyaksikan kehebatan Ki Ageng Suro dengan mata terbelalak. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan lawan sekuat ini. Dengan geram, ia maju sendiri, mengayunkan pedang besarnya dengan kekuatan penuh.

Pertarungan antara keduanya berlangsung sengit namun singkat. Ki Ageng Suro dengan tenang menghindari setiap serangan, lalu dengan satu gerakan cepat dan tepat, ia berhasil melucuti topeng besi dari wajah pemimpin perampok itu. Terlihatlah wajah seorang pria muda yang penuh kesombongan dan kekejaman.

Mendapati dirinya tak berdaya, pemimpin perampok itu gemetar ketakutan. Ki Ageng Suro menatapnya dengan tatapan penuh welas asih. "Kekuatan bukanlah untuk menindas. Pergunakanlah untuk kebaikan."

Kata-kata itu bagai petir yang menyambar hati sang perampok. Ia tersadar akan kesalahannya. Tanpa berkata sepatah pun, ia memberi isyarat kepada anak buahnya untuk mundur. Mereka pergi meninggalkan Kaliwungu dengan rasa malu dan kekalahan.

Setelah kepergian para perampok, penduduk Kaliwungu bersorak gembira menyambut kemenangan Ki Ageng Suro. Mereka berterima kasih atas keberanian dan kesaktiannya yang telah menyelamatkan desa mereka. Ki Ageng Suro hanya tersenyum tipis, lalu kembali ke gubuknya di tepi hutan.

Sejak saat itu, nama Pendekar Sakti Kaliwungu semakin harum. Kisah tentang kesaktian dan kerendahan hatinya diceritakan dari mulut ke mulut, menjadi pengingat bahwa kekuatan sejati adalah kekuatan yang digunakan untuk melindungi dan membawa kedamaian. Dan di hutan Kaliwungu, sang pendekar sakti tetap hidup dalam kesederhanaannya, menjadi penjaga tak terlihat bagi desa yang dicintainya.

Indahnya Kebahagiaan

(Bait 1) Mentari pagi menyapa lembut, Embun di daun berkilau indah. Hati yang riang tak dapat kusembut, Kebahagiaan kini bertambah.

(Bait 2) Senyum terukir di setiap wajah, Tawa ceria menggema riuh. Langkah ringan tak terasa lelah, Dalam bahagia hati pun teguh.

(Bait 3) Bunga bermekaran aneka warna, Burung berkicau merdu di dahan. Indahnya dunia terasa sempurna, Saat bahagia menjadi teman.

(Bait 4) Sederhana namun sungguh berarti, Kebersamaan dalam kedamaian. Kasih sayang tulus di dalam hati, Sumber bahagia takkan tertahankan.

(Bait 5) Mari jaga rasa yang mulia ini, Syukuri setiap detik yang ada. Indahnya bahagia kan abadi, Dalam hati yang selalu bercahaya.

Minggu, 13 April 2025

syair lagu tentang kebahagiaan seorang siswa

(Bait 1)

Mentari pagi menyapa riang,

Burung berkicau, hati pun senang.

Seragam bersih, tas di punggung,

Langkah kaki ringan menuju gerbang.


(Bait 2)

Bertemu teman, senyum merekah,

Cerita pagi, canda terpecah.

Di ruang kelas ilmu bersemi,

Guru membimbing, hati berseri.


(Bait 3)

Angka dan huruf menari indah,

Pengetahuan baru, sungguh megah.

Otak berpikir, imajinasi terbang,

Dunia terbuka, tak lagi rembang.


(Bait 4)

Saat istirahat, riuh rendah suara,

Bermain bersama, hilangkan lara.

Berbagi bekal, tawa ceria,

Persahabatan erat, takkan terkira.


(Bait 5)

Bel berbunyi, pelajaran usai,

Ilmu di dada, semangat membukai.

Langkah pulang riang gembira,

Esok kembali, dengan cita-cita.


(Bait 6)

Bahagia sederhana, di bangku sekolah,

Masa depan cerah, impian merekah.

Menjadi pintar, berakhlak mulia,

Itulah bahagia seorang siswa.

Jumat, 11 April 2025

Kuntara, Sang Penjaga Kaliwungu

Angin sore menyisir lembut dedaunan di pohon-pohon beringin tua yang berjajar di tepi Kaliwungu. Di tengah gemericik air sungai yang tenang, di sebuah gubuk sederhana beratap daun nipah, tinggallah Kuntara. Tubuhnya kekar meski usianya senja, dengan mata setajam elang yang menyimpan kearifan bertahun-tahun. Masyarakat Kaliwungu mengenalnya sebagai sosok pendiam, namun di balik kesederhanaannya tersimpan kekuatan yang luar biasa.


Kuntara bukanlah pendekar yang gemar pamer kehebatan. Ilmu kanuragannya, yang diwariskan turun-temurun dari leluhurnya, digunakan hanya untuk melindungi kedamaian kampung halamannya. Ia lebih sering terlihat membantu para petani di sawah, memperbaiki jala para nelayan, atau sekadar duduk di tepi sungai, mengamati kehidupan yang mengalir seperti air Kaliwungu.


Namun, ketenangan Kaliwungu suatu hari terusik. Sekelompok perampok yang dikenal kejam dan tak kenal ampun mulai meresahkan warga. Mereka datang dari luar daerah, dengan senjata tajam dan niat buruk untuk menjarah hasil bumi dan harta benda penduduk. Ketakutan menyelimuti Kaliwungu. Banyak warga yang mulai bersembunyi dan meninggalkan rumah mereka.


Melihat penderitaan rakyatnya, hati Kuntara tergerak. Ia tahu, diam bukanlah pilihan. Malam itu, di bawah rembulan sabit yang menggantung di langit, Kuntara keluar dari gubuknya. Tanpa senjata yang mencolok, hanya dengan sebilah bambu runcing sederhana di tangannya, ia berjalan menuju sumber keresahan.


Pertemuan terjadi di perbatasan desa, di sebuah ladang jagung yang luas. Para perampok, berjumlah belasan orang dengan wajah garang, terkejut melihat seorang kakek tua menghadang langkah mereka. Mereka tertawa meremehkan, menganggap Kuntara hanyalah penghalang lemah yang mudah disingkirkan.


Namun, tawa mereka segera membeku. Dengan gerakan secepat kilat, Kuntara melumpuhkan satu demi satu perampok. Bambu runcing di tangannya seolah memiliki nyawa, bergerak lincah menghindari sabetan pedang dan menghantam titik-titik lemah lawan dengan tepat. Ilmu bela diri yang dimilikinya bukan sekadar gerakan fisik, namun juga melibatkan kepekaan terhadap energi alam dan pemahaman mendalam tentang anatomi tubuh manusia.


Para perampok yang semula arogan, kini terkapar tak berdaya. Mereka merasakan kekuatan yang jauh melampaui perkiraan mereka, sebuah kekuatan yang lahir dari ketenangan dan dedikasi untuk melindungi. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Kuntara mengikat para perampok itu dan menyerahkannya kepada kepala desa keesokan harinya.


Sejak saat itu, nama Kuntara menjadi buah bibir di seluruh Kaliwungu. Mereka tidak lagi melihatnya sebagai kakek tua biasa, melainkan sebagai pendekar sakti, penjaga kedamaian yang selama ini hidup di tengah-tengah mereka. Namun, Kuntara tetaplah Kuntara yang sederhana. Ia kembali ke gubuknya di tepi sungai, melanjutkan kehidupannya yang tenang.


Ketika senja kembali menyapa Kaliwungu, dan suara gemericik air sungai terdengar syahdu, warga tahu bahwa mereka memiliki seorang pelindung sejati. Kuntara, pendekar sakti dari Kaliwungu, telah membuktikan bahwa kekuatan sejati tidak selalu membutuhkan keglamoran, namun lahir dari hati yang tulus untuk menjaga kebaikan. Dan sungai Kaliwungu, saksi bisu kehidupannya, terus mengalirkan kedamaian bagi seluruh penduduknya.

Puisi: Cahaya Ilmu di Bangku Sekolah

Di bangku SMP, langkahku berpijak,

Buku terbuka, jendela dunia terkuak.

Otak yang haus, bagai tanah yang merindukan hujan,

Menyerap setiap ilmu, penuh keinginan.


Angka menari, dalam rumus yang terukir,

Sains membuka tabir, alam semesta berpikir.

Sejarah bercerita, tentang masa yang t'lah silam,

Bahasa merangkai kata, indah dalam setiap kalam.


Bukan hanya hafalan, yang menjadi tujuan,

Namun pemahaman mendalam, akar dari setiap kajian.

Bertanya dan mencari, tak pernah merasa jemu,

Kritis dalam berpikir, menembus setiap ragu.


Di balik seragam, semangat membara,

Mimpi terukir indah, setinggi cakrawala.

Kelak kan kubuktikan, dengan karya dan prestasi,

Ilmu yang kupelajari, kan jadi bekal berarti.


Wahai siswa pintar, teruslah kau berjuang,

Cahaya ilmu kan menuntun, ke gerbang kesuksesan yang gemilang.

Jangan pernah berhenti, untuk terus belajar,

Masa depan bangsa ini, ada di pundakmu yang tegar.

Game xxxx

 ld ksjdlksajdlksajd lksajdsjd sdsd sd   dslak jdsal jdsajd sadsa dsads  untuk bermainsilahkan KLIK DISINI Salinan dari Game Matem...